Langsung ke konten utama

Menaklukan TOEFL Unnes dan Sedikit Catatan Kencan

Bisa dibilang saya nggak begitu mengerti soal Bahasa Inggris. Modal dasar saya adalah Vocab yang saya pelajari dalam keseharian selama ini dan Grammar yang saya dapat di sekolah. Itu saja, tidak lebih. Memang sangat sedikit, lebih lagi saya tidak begitu paham ketika seorang native berbicara. Jadi test listenning saya bisa dipastikan sangat minus. Tapi entah apa yang terjadi, kenyataan bahwa nilai listenning saya justru lebih unggul dari structure. Saya yakin itu atas kehendak Allah, meskipun saya bukan hamba yang begitu taat.

Aturan baru Bapak Rektor kita yang mewajibkan lulus TEOFL sebagai syarat sidang, memang menjadi momok tersendiri bagi sebagian mahasiswa. Apalagi orang semacam saya dan mungkin juga kamu. Membaca tulisan ini artinya kalian gelisah soal TEOFL ini dan mengharapkan tips dari saya supaya bisa lulus. Tenang saja, kelian berkunjung ke tempat yang tepat. Apa yang akan saya bagikan ini sangat mudah. Kalian pasti bisa melakukannya.

Konon, dari cerita mulut ke mulut oleh para alumni, TEOFL Unnes itu mudah. Mudah jika kamu mengikuti pelatihannya. Artinya kamu harus membayar 300 Ribu, untuk memesan kursus dan ujian. Katanya, semua bakal auto lulus. Tapi pernah dengar juga ada yang tidak lulus. Saya nggak tahu orang macam apa ini yang sudah membayar mahal tapi tidak lulus. Haha. Rugi bandar, Ndes!

Tapi ya mau bagaimana lagi, masa mau menggugat kan ya nggak mungkin. Unnes sendiri nggak pernah memberi jaminan soal kelulusan jika ambil pelatihan. Memang sih secara kelas ketika test kita dibedakan. Ada kelas A dan Kelas B. Saya, karena ambil test yang 100 Ribu, saya di kelas A. Meskipun begitu saya tetap lulus tuh. Huhu. Maap saya kipas-kipas dulu.

Jingan, udah panjang lebar tapi belum juga dibagikan tipsnya! Haha, sabar KawanQ. Kalau kamu merasa bego di Bahasa Inggris, belajar juga saya kira sudah sangat telat. Belajar TEOFL nggak mungkin seperti belajar saat kita semesteran, yang bisa dikerjakan cukup semalam. TEOFL perlu belajar dalam proses yang panjang. Maka, kata saya, mending pasrahkan saja sama yang Kuasa. Ini serius saya, bukan melawak.

Pertama-tama saya pasrahkan betul sama Allah, karena saya muslim. Kemiskinan membikin saya sebisanya jangan gagal. Daripada membayar TEOFL berikutnya, saya berusaha memaksimalkan saja yang pertama. Tapi karena saya merasa tidak mampu, tidak memiliki bekal Bahasa Inggris yang mumpuni, saya meminta bantuan pada Tuhan saya. Saya bahkan meminta itu jauh-jauh hari sebelum test. Karena itu satu-satunya harapan saya.

Tentu akan lebih baik jika kita juga mengusahakan buat sedikitnya belajar dan serius saat mengerjakan. Saya begitu. Soal reading yang bacaannya panjang-panjang begitu pun saya baca. Meskipun nggak sepenuhnya saya paham. Ketika mengisi saya juga sambil membacakan doa-doa. Hehe. Salawatin aja, ye! Yakinkan diri pilihanmu adalah jawaban yang benar.

Lalu apakah saya belajar? Tentu saja, nggak mungkin tidak. Oh, iya, hampir lupa, mintalah juga doa orang tua. Dan ya siapa pun saudaramu yang bisa dimintai. Kembali ke soal belajar. Saya belajar sedikit dari Youtube. Saya belajar di Taman Kali Tuntang Demak sembari menunggu kekasih yang dalam perjalanan untuk menemui saya. Kami memang janjian sih untuk berangkat bareng ke Unnes di hari H ujian. Saya hanya sempat belajar kira-kira 23 menit. Dia keburu sampai. Ah, dasar kekasih.

Kami memang harus segera ke Unnes, saat itu waktu menunjukkan pukul 10.27an. ujian saya pukul 12.45. kami sangat buru-buru, tapi tetep mengutamakan keselamatan. Pukul 12 kurang beberapa menit kami sampai. Saya harus persiapan segalanya, termasuk makan, bersih-bersih, dan siap-siap. Padahal menurut jadwal saya harus di sana 30 menit sebelum jadwal ujian karena ada pemeriksaan data dan lain-lain.

Saya Gassss kenceng-kenceng motor saya yang sudah tua itu. Fail (bukan typo ya, itu terjemahan dari file) saya yang dikirim ke tempat percetakan oleh kekasih saya, segera saya ambil hasilnya. Membayar 300, saya bayar 500, kembali 200nya untuk donasi karena nggak ada waktu lagi menunggu Masnya nyari koin 200an. Gasss lagiii!

Segera saya parkir, dan masuk gedung LP3. Saya bertanya di lobi soal lokasi tepatnya, ternyata di lantai 3. Saya lari, aduh pengen nangis, “kenapa saya selalu telat” terlintas, sempet mengganggu pikiran saya. Saya terburu-buru, menggeledah isi tas saya untuk menyodorkan data. Alhamdulillah saya tidak jadi telat. Kami memasuki ruangan dan segera ujian. 

Jingan tengik, saya dapat bangku tepat di depan pengawas. WQWQ. Tak peduli bagaimanapun jalannya, saya tetap lulus sekali test untuk TEOFL yang 100 Ribu. Hebat AQU.

Komentar

Postingan populer dari blog ini